Jembatan Ampera – Sungai Musi Venezia dari Timur

Jembatan Ampera – Sungai Musi Venezia dari Timur

November 7, 2018 0 By admin

Sungai Musi terletak di Provinsi Sumatera Selatan. Dengan panjang sekitar 750 km. sungai terpanjang di Pulau Sumatra ini menjadi kebanggaan para Wong Kito Galo. Sejak zaman Kerajaan Sriwijaya. sungai Musi terkenal sebagai sarana utama transportasi kerajaan dan masyarakat. Hal itu berlanjut hingga masa pemerintahan Kesultanan palembang Darussalam.

Bahkan, hingga kini, Sungai Musi masih menjadi alternatif jalur transportasi ke daerah tertentu. Sumber mata air utama Sungai Musi berasal dari Kepahiang-BengkuIu dan bermuara di sembilan anak sungai besar (disebut Batanghari Sembilan). Kesembilan sungai tersebut, yaitu Sungai Komering, Rawas, Batanghari, teko, Lakitan, Kelingi, Lematang, Semangus, dan Ogan.

Palembang juga disebut dengan Kota dari 20 Pulau atau De stad der twintig eilanden (The City of 20 Islands). Dahulu, terdapat 108 sungai yang membelah Kota Palembang dengan lembahnya yang berawarawa sehingga tampak seperti puluhan pulau kecil yang tersebar dan mengelilingi Palembang. Kenyataannya, di Sungai Musi terdapat dua pulau, yaitu Kembaro (Kemaro) dan Kerto.

Palembang juga memiliki sebutan yang lebih eksotik, yaitu Venezia dari Timun Begitu banyak sungai di Kota Palembang sehingga bangsa Eropa (Belanda khususnya) memberi julukan seperti sebuah kota di Italia.

Sungai Musi membelah Palembang menjadi dua kawasân yaitu kota Seberang Ilir di bagian uta dan Seberang Ulu di bagian selatan Oteh karena itu, kedua daerah tersebut membutuhkan sebuah penghubung, yaitu jembatan. Pada awalnya, jembatan ini dinama; Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pernberian nama ini sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama tersebut. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi.

Mulai dibangun pada tahun 1962 dan selesai di tahun 1965, struktur jembatan ini memiliki panjang 1.117 m (dengan bagian tengah sepanjang 71,90 m, persis di atas Sungai Musi), lebar 22 m, tinggi 11,5 m dari permukaan air, tinggi menara 63 m dari permukaan tanah, jarak antara menara 75 m, dan berat 944 ton. Biaya yang dihabiskan pada awal pembangunan adalah 4.500.000 dolar AS (kurs saat itu 1 dolar AS = Rp200,OO). Dana tersebut didapat dari hasil rampasan zaman Jepang setelah Jepang mundur dari Indonesia pada Perang Dunia Il. Namun, arsitek yang membuat rancangan jembatan ini adalah seorang warga negara Jepang.

Pada 2010, jembatan ini hampir roboh akibat baut-bautnya yang menua dan beton yang semakin terkikis oleh air sungai. Selain menjadi ikon Kota Palembang, Jembatan Ampera merupakan hasil perjuangan dan saksi sejarah pada masa itu. Kala malam datang, lampu-lampu di sepanjang jembatan memberi sinar yang memantul di bawah aliran sungai Musi.